Senin, 04 September 2017

Persiapan Persalinan

Beberapa pekan yang lalu, saya kedatangan tamu istimewa. Bude kami, yang merupakan seorang bidan senior. Beliau ini angkatan2 pertama bidan masuk desa. Program orde baru tahun 90an yang bertujuan mengurangi tingkat kematian ibu dan bayi. Dulu, bidan-bidan ditugaskan ke desa-desa terpencil, di mana fasilitasnya masih sangat mengkhawatirkan dan tingkat kematian ibu dan bayi memang sangat tinggi.

Alhamdulillah, sekarang, dengan izin Allah, adanya berbagai ikhtiar dan kemajuan teknologi, secara statistik, dapat menekan angka kematian tersebut. Tapi bagaimanapun majunya sebuah teknologi, proses persalinan tetaplah menjadi perjuangan luar biasa, jihad hidup mati, bagi seorang ibu. Ya kan ya kan..

Saya sendiri setiap hamil, selalu ada pikiran, what if.. Gimana kalau pas melahirkan nanti saya nggak tertolong. Terutama waktu hamil anak kedua, karena saya dapat beberapa berita meninggalnya seorang ibu saat melahirkan. Dan tiap mendekati waktu persalinan rasanya campur aduk.. Takut? Iya.. takut kalau emang hidup saya selesai, saya nggak selamat di akhirat karena kelalaian saya selama di dunia. Tapi di sisi lain, siapa sih yang nggak mau syahid?

Dan setelah direnung-renungkan, ternyata banyak banget persiapan yang harus dilakukan sebelum melahirkan. Sebelum maju ke medan jihad. Sebenarnya bukan cuma persiapan kalau mau melahirkan aja ya. Persiapan seumur hidup. Tapi biasanya, momen persalinan ini yang membuat persiapannya makin intens..

1. Ridha suami
Karena ada surga bagi yang menghadap Allah dengan diiringi ridha suaminya. Maka bersyukurlah jika Allah memberikan karunia suami yang shalih, yang sangaat baik. Terlepas dari segala kekurangannya. Memang kita sendiri, sudah sesempurna apa? Punya suami yang baik itu artinya Allah mudahkan jalan untuk meraih ridhanya, setelah ridha Allah. Saya sempat tersentak ketika pertama kali mendengar suara seorang istri menangis dengan suara yang terdengar hingga ke mana-mana. Entah apa yang dilakukan suaminya. Saya tersentak ketika ada suami yang dengan ringannya memanggil istri dengan sebutan "gila", "anj*n*g", dan panggilan kotor lainnya. Di depan orang lain! Pengen nangiiis rasanya. Langsung keinget suami yang sedang berjihad mencari nafkah halal untuk anak istrinya huks huks. Fabiayyi alaairabbikumaa tukadzdzibaan..

2. Dzikir
“Barangsiapa yang mengatakan Laa ilaaha illallah pasti masuk surga”. Nah. Dan bukankah jika dzikir sudah jadi bagian tak terpisahkan dari diri kita, Allah pula yang akan memudahkan lisan kita untuk mengucapkannya di akhir perjalanan dunia kita? Dan untuk proses persalinan, rasa sakitnya kan emang luar biasa ya. Alhamdulillah Allah kasih rasa sakit itu, yang pasti menuntun kita buat inget Allah terus.. terus.. terus.. Selalu inget sakaratul maut. Harapannya, hanya kalimat tauhid yang terucap dari lisan pada saat-saat terakhir.

3. Amal shalih
Seperti yang dijelaskan oleh ustadz Abdullah Roy pada Halaqah Silsiyah 'Ilmiyah, pada hari akhir nanti, bukan hanya orang-orang kafir saja yang datang dengan penuh penyesalan. Pun orang-orang mukmin. Menyesal dengan ketidakoptimalan amal yang dilakukan selama hidup di dunia. Mengoptimalkan amal untuk ibu hamil memang challenging. Kondisi hamil ini sebetulnya ya ujian tersendiri ya untuk ibu-ibu. Terutama mendekati HPL. Kesabaran menghadapi lelah yang bertambah-tambah ini jadi kesempatan kita menghapus dosa-dosa masa lalu. Melakukan amal-amal shalih meski dalam kondisi sulit ini yang semoga akan mengurangi penyesalan saat hari akhir nanti.

4. Hafalan Quran
Karena semakin banyak ayat yang kita hafal, dapat surganya semakin tinggi. Ustadz Oemar Mita pernah bertanya: ridhakah kita kembali pada Allah tanpa membawa bekal (hafalan)? Tentu tidak kan ya.. Menghafal Al Quran bukan hanya soal membaca lalu dihafal dan sudah.. Bukan.. Menghafal ini soal penjagaan. Bagaimana kita bisa menjaga firman-firman Allah sampai nafas terakhir kita. Menghafal Al Quran bukan supaya ketika ditanya orang tua, guru, saudara, teman, "sudah berapa juz?", kita bisa menjawab "sekian".. *padahal banyak yang udah lupa juga hehe*. Tapi supaya ketika Allah memerintahkan kita untuk membaca di hari akhir kelak, kita bisa membacanya dengan lancar, baik, sehingga Allah menaikkan surga kita lagi, lagi, dan lagi.. Jadi menurut saya, memutqinkan hafalan sebelum persalinan ini penting sekali..

5. Pendamping Persalinan
Masih dari kajian ustadz Oemar Mita.. Bahwa pada saat sakaratul maut, syaithan terus menggoda manusia supaya murtad dan suul khatimah. Makanya, sangat amat penting sekali, orang yang sedang sakaratul maut untuk didampingi. Ditalqin supaya hidupnya berakhir dengan baik.. Alhamdulillah yah, jaman sekarang ibu melahirkan udah boleh didampingi sama suami. Katanya sih jaman dulu nggak boleh.. Allahua'lam. Tapi memang selain bisa menyemangati istri yang sedang jihad, kehadiran suami ini penting banget nget nget kalau kalau memang saat itu istri harus menghadapi sakaratul mautnya. Walaupun mungkin bisa jadi pukulan psikologis buat suami ya. Tapi kata ustadznya, meskipun yang mendampingi itu nggak tega ngeliatnya, harus dikuat-kuatin hehe. Pendamping persalinan sebenernya nggak harus suami ya. Jujur, waktu persalinan pertama, saya merasa lebih aman dan nyaman saat megang tangan ibu saya. *duh mbrebes mili ingetnya

6. Wasiat
Ini termasuk teknis sih. Dan menurut saya ini memudahkan para ahli waris ya. Misalnya, mau dimakamkan seperti apa, di mana, no. PIN ATM berapa, dan lain-lain. Sebaca saya sih ya, ngambil tabungan orang yang udah meninggal ini perlu surat/akte kematian. Sebagaimana mengurus dokumen-dokumen lain di negara kita, ngurus akta kematian ini pun ribeud. IMO, mending ngasih tau nomer pin ke orang terdekat sih. Hehehe.

7. Taubat
Bukan berarti jadi prioritas terakhir. Tapi, persiapan spesial ini mencakup seluruh persiapan-persiapan yang lain. Seberapa sering sih cemberut sama suami? Berapa banyak waktu dan aktivitas yang dilakukan tanpa dzikir di dalamnya? Berapa waktu yang habis sia-sia? Berapa ayat yang lama nggak disapa..? Kudu banyak-banyak istighfar ya..

Masih banyak sih ya yang lainnya. Saya keingetannya ini doang. Dan sebenernya paham banget dah teori-teorinya.. Tapi prakteknya ampun dah masih belang blentong *tutupmuka. Mohon doanya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar