Selasa, 02 Agustus 2016

Terima Kasih Pak Anies Baswedan

Kok tiba-tiba ngomongin kabinet? Hehe entahlah. Saya beberapa waktu belakang merasa sedih dengan digantinya Mendikbud. Awalnya saya kira cuma sedih sesaat yang... ya, ntar juga ilang sendiri. Ternyata tidak semudah itu. Tetep ada perasaan nggak enak di hati saya.

Saya juga bingung sebenernya, kok bisa sampai baper begini. Saya bukan fansnya Pak Anies. Saya juga bukan yang merasa beliau sudah melakukan perubahan luar biasa di kemendikbud. Toh sampai sekarang berita tentang nasib guru honorer masih sering terdengar *terbaca deng*. Berita tentang kelakuan pelajar yang kurang ajar juga masih banyak. Bisik-bisik tetangga tentang birokrasi dan permainan uang dalam dunia pendidikan juga masih sebegitunya...

Tapi....
Tapi......

Saya sudah terlanjur menaruh harapan yang cukup tinggi kepada Pak Anies. Dan kini harapan itu harus pupus di tengah jalan *apasih haha*.
Iyah, jadi, dulu..

Pak Anies pernah memaparkan tentang kurikulum sekolah yang menurut ilmu saya, itu bagus.. Tentang mengembalikan TK kepada fungsi awalnya sebagai tempat bermain, tentang kurikulum pendidikan dasar yang ramah anak, dan sebagainya..

Bener loh, kalau kita-kita, manusia 90an ini baca gimana buku pelajaran anak-anak SD jaman sekarang, pasti akan shock. Ngerasa yang.. "Apah?? Kelas 1 udah belajar beginian???".
Dan akhirnya merasa kasihan sama anak-anak. Mereka yang seharusnya masih menikmati fitrahnya, belajar tentang Sang Pencipta dan ayat-ayat cinta-Nya, ternyata udah harus merasakan pelajaran-pelajaran yang,,emak bapaknya pun belum tentu bisa... *elo aja kali*

Selain tentang kurikulum, di masa Pak Anies menjabat, beliau juga membuat direktorat keayahbundaan, atau pendidikan keluarga. Nah, di sini ini yang saya klik banget. Ya emang jelas kan, mendidik anak artinya bukan menitipkan anak ke sekolah dan ayah bunda tau beres. Pemeran utamanya tetap ayah bunda. Dan saya mengapresiasi sekali adanya direktorat pendidikan keluarga itu. Artinya beliau serius menyikapi isu ini. Artinya, sedikit banyak pandangan beliau dan pandangan kami sebagai orang tua saling beririsan. Kami tetap ingin jadi sekolah utama untuk anak-anak. Dan senang sekali kalau ternyata didukung penuh oleh pemerintah. Pemerintah, lho... Orang-orang yang mengatur 200 juta manusia Indonesia.

Ya memang, saat pada akhirnya beliau lengser, seperti belum ada perubahan berarti pada hal-hal yang saya harapkan. Tapi semua kan berproses ya. Nggak mungkin kurikulum langsung berubah drastis. Nggak mungkin semua TK dan PAUD tiba-tiba nggak maksain ngajarin calistung. Tapi kami seperti melihat visi yang sama. Visi yang kemudian seperti tertutup kabut pekat saat beliau diganti haha.
Tapi ya sudahlah ya. Ini namanya takdir. Saya akhirnya juga cukup legowo setelah baca tulisannya Mbak Afifah Afra tentang Pak Muhajir, pengganti Pak Anies. Semoga Allah mengarahkan Pak Menteri, jajaran pejabat kemendikbud, serta kami para orang tua dalam menapaki jalan panjang untuk memperbaiki pendidikan anak-anak negeri ini.  Amin..

*Draft ngendon. Ditulis sebelum heboh-heboh tentang full day school :D*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar