Sabtu, 16 April 2016

Kakak Malu, Mi..

Waktu dulu saya masih ngisi mentoring adik-adik SMA, salah satu hal yang paaaaling sering jadi bahan curhatan adalah orang tua. Sama seperti orang tua yang sering mengeluhkan anaknya, anak-anak pun tak kalah sering mengeluhkan orang tuanya. Apakah adik-adik ini nggak sayang sama orang tuanya sehingga harus mengeluhkan ke mentornya? Insyaallah nggak... Mereka baik-baik kok.. Mereka sayang ke orang tuanya. Banget. Tapi, tetep ada hal-hal yang bikin adik-adik ini sedih sehingga harus cerita.

Salah satu keluhan tersering adalah, bahwa orang tua sering membicarakan keburukan anak-anaknya di depan orang lain. Baik diketahui anaknya maupun nggak. Iya nggak iya nggak? Dan ternyata, hal itu saaaaangat menyakitkan bagi anak. Dan karena itulah saya berazzam untuk tidak melakukan hal yang sama kepada anak-anak saya.

Bisakah?
Ternyata perjalanannya tidak mudah.

Saya mau melihat dari sudut pandang saya aja deh sebagai orang tua. Kadang kalo kita ngumpul kan sering ya cerita banyak tentang anak kita ke orang, anakku begini loh, anakku begitu loh.. Sebenernya bukan cerita kayak ngegosip atau bermaksud ghibah gitu. Bukan... Ya sekedar berbagi. Entah berbagi sesama emak, atau cerita ke saudara-saudara. Tapi ternyata, sebagai orang tua saya tidak sadar bahwa perkembangan anak-anak ini smooth banget.

Maksudnya begini. Saat anak saya lahir, saya cerita banyak banget ke orang-orang. Anak saya lahir begini, terus mimiknya begini, udah bisa ini, udah suka itu, dan lain lain. Beranjak besar pun begitu. Perkembangannya begini, perkembangannya begitu. Daaan seterusnya sampai dia dewasa.
Padahal, ada momen-momen yang harus dicermati. Momen saat anak mulai ngerti apa yang dikatakan orang tuanya. Momen saat anak mengenal tentang suka dan tidak suka. Momen saat anak mengerti tentang perasaan. Dan tidak harus semua hal tentang anak diceritakan kepada orang lain.

Saat anak masih baru lahir, kita cerita a sampai z ke orang-orang mungkin nggak masalah ya. Anak juga belum ngerti. Tapi... beranjak umur 3 tahunan, saat kemampuan berbahasanya berkembang pesat, dia udah mulai ngerti banyak hal. Dan saya rasa, mulai saat itu saya sebagai orang tua harus berhati-hati kalau mau menceritakan tentang anak. Mungkin maksud kita lucu. Tapi kita nggak tau loh apa yang ada jauh di dalam lubuk hati anak. Bisa jadi dia malu dengan apa yang kita ceritakan. Dan membekas dalam memorinya.

Saya juga seriing keceplosan. Cerita di depan orang banyak, anakku begini anakku begitu. Dan setelah kata-kata itu terlepas dari lidah saya, saya merasa ada penyesalan yang sangat dalam.. Istighfar.. Dan berpikir, anakku malu nggak ya sama hal-hal yang aku ceritain tadi..?

Pernah saya merasa bersalah seperti itu. Saya cerita banyak tentang Asma, anak saya yang berusia 3 tahun, ke orang lain. Setelah cerita itu saya melihat ekspresinya berubah. Akhirnya beberapa saat setelahnya saya tanya ke Asma, suka nggak kalau ummi cerita kaya gitu ke orang..? Dan Asma cuma bilang, "Kakak malu, mi..".

Jleb.
Duh.
Baiklah nak, emakmu akan lebih berhati-hati.

Tapi sampe sekarang saya masih sering keceplosan.. Mudah-mudahan Allah mudahkan untuk memperbaiki ya.. Ust. Fauzil Adhim juga sering nyindir tentang ini da. Emak-emak itu suka absurd, sering ngomongin kejelekan anak di depan orang, tapi kalo anaknya dijelek-jelekin sama orang lain mesti marah. Hehe.. Emang iya.

Semoga kita para emak bisa dicintai anak-anak seutuhnya. Tanpa memori menyakitkan pada jiwa anak tentang kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar