Selasa, 05 September 2017

Pindahan

Sejak pertama kali lelaki itu datang, saya sudah berkomitmen pada diri sendiri, untuk mendampinginya, mengikutinya ke manapun ia membawa saya. Dan berhubung Allah mengamanahkannya berjihad mencari nafkah di sebuah perusahaan negara yang berkontrak "bersedia ditempatkan di manapun di seluruh Indonesia", saya pun bernasib sama. Pasrah hidup nomaden. Selalu berpindah tak tentu arah wkwkwk.

6 tahun menikah, kami sudah menempati 1 kos + 4 rumah kontrakan. Yak. 5 tempat. 4 kali pindahan. 3 pindahan di kota yang sama (Palembang), dan sekali antar kota antar provinsi (Palembang-Jambi kota). Sebenernya yang pindahan beneran karena tuntutan tugas mah cuma yang terakhir ini. Sebelum-sebelumnya alasannya karena perkembangan budget wkwkwk.

Nah berhubung kami nggak tau kapan akan menetap di suatu kota, ada ikhtiar-ikhtiar yang kami lakukan untuk mendukung proses pindahan ini.

1. Meminimalisir Furnitur
Setiap beli perabotan rumah baru, kami mikirnya panjaaang.. Butuh nggak ya? Nah kalo emang butuh, dicari, ada yang bisa bongkar pasang nggak. Kalo ada ya belinya yang bongkar pasang. Dipan, lemari baju, rak-rak buku, meja makan, dan mainan kami beli yang bongkar pasang. Jadi barang gedenya cuma spring bed, kulkas, mesin cuci, sama beberapa lemari.

Untuk mainan anak, untuk mainan yang enteng-enteng, kami tempatin di container model lemari. Bilik-biliknya (duh apa sih ini namanya) bisa dilepas dengan gampang. Jadi kalau anak mau main, tinggal lepas containernya. Nah pas pindahan, container ini tinggal disolasi muter dan tinggal angkat.

Untuk barang-barang yang dipakai cuma pada event tertentu, misalnya baju anak yang udah sempit dan mau dipakai adik/calon adiknya, kami masukin ke container model box, dalam keadaan bersih dan terplastik per rentang usia. Nanti pas pindahan tinggal angkat. Pas mau dipakai adiknya, tinggal dikeluarin sesuai usianya.

2. Membersihkan Rumah secara Berkala
Berhubung kami menyadari bahwa setiap kami tinggal di sebuah rumah itu nggak akan lama, jadi sebisa mungkin nggak ada spot-spot yang barangnya berserakan. Barang rusak langsung buang, yang nggak terpakai disumbangin. Ini kerasa banget deh kalau mau pindahan. Kalau semua spot di rumah rapi, pas pindahan kita tinggal masuk-masukin aja ke kardus. Kalau berantakan, sebelum packing harus sortir-sortir dulu.

3. Tidak Membeli Barang yang Tidak Dibutuhkan
Setelah beres-beres dan menemukan beberapa barang tidak terpakai, biasanya saya ngerasa bersalah haha. Banyak ternyata ya, barang-barang yang ternyata kepakai cuma sebentar kemudian hanya teronggok begitu saja. Habis itu bakal tobat dah, berazzam nggak beli yang ga butuh-butuh amat. Wkwkwk. Prinsipnya makin dikit barang di rumah makin bagus.

4. Memanfaatkan rak gantung
Dulu kami beli rak gantung buat menghemat space di rumah. Kan rumah kami dulu super mungil ya. Jadi rak gantung gini membantu sekali. Nah ternyata, pada perjalanannya, pas pindahan, ngangkut rak gantung ini praktis sekali. Tinggal gulung rak seisi-isinya, terus masukin trash bag. Di rumah yang baru pun tinggal digantung lagi.

Terus teknisnya pindahannya gimana?
Merencanakan Peletakan Barang
Tiap mau pindahan saya pake bikin denah dan ngukur-ngukur rumah+segala perabot dong wkwkwk. Setelah itu bikin plan, lemari a mau ditaro ruang mana, lemari b di mana, rak c, perabot d dan seterusnya mau disimpen mana. Walaupun nggak 100% sesuai rencana karena ukurannya nggak match, tapi paling nggak pas masukin perabot dari kendaraan, bisa langsung sesuai ruangan. Kalo ternyata ada yang perlu dipindah kan nggak banyak. Nggak terlalu ngeluarin effort.
Packing
Waktu kami pindah sekota, berhubung kalau pindah dalam satu kota ini kendaraannya fleksibel, jadi kami packingnya seadanya aja. Kami mengandalkan trash bag paling gede, plung plung masukin, beres dah. Kardus dulu cuma buat buku aja. Kalau ternyata mobil baknya nggak cukup dalam sekali jalan, ya tinggal balik lagi. Dan pada akhirnya, packing seadanya asal masuk ini akan jadi masalah di rumah baru. Pusiing bener pas unpack. Pas butuh sesuatu, lupa ditaro di kardus atau plastik yang mana. Padahal rumahnya penuh barang. Jadi bingung nyarinya. Mau nggak mau cepet-cepet dirapihin. Semalem jadi.

Nah, belajar dari pengalaman, pas pindah ke kota lain, kami packing serapi mungkin. Dikardusin dengan rapi, disusun per ruangan (ruangan di rumah baru tentunya), dan jangan lupa dinamain. Pakai kardus ini bisa menghemat space di truk.

Barang-barang dalam satu lemari atau rak dimasukin dalam satu kardus. Kalau ada space kosong dulu mah saya sumpel-sumpel pakai boneka kecil. Kardusnya pakai kardus rokok yang besaar.. Dapet dari mana? Kalau kami dulu beli di pasar besar (pasar Cinde kalo di Palembang). Harga satu kardus 7500. Nah di rumah baru, kardusnya kami jadiin jadi alas kasur. Supaya nggak lapuk.

Urutan packingnya dari yang paling nggak terpakai ya. Terakhir dipack itu baju yang dipakai sehari-hari, yang hampir semua dimasukin ke koper yang kami bawa (nggak masuk truk). Baju kami sedikit soalnya hehe. Saya paliing enggan tuh ngurusin perabot dapur. Apalagi yang pecah belah. Dulu saya pakai plastik bubble. Tapi ternyata pas di rumah baru plastiknya malah makan tempat. Jadi emang paling pas tu barang pecah belah dikardusin bareng handuk2. Btw barang pecah belah kami cuma ada di dapur. Kami nggak punya pajangan pajangan, atau foto-foto berbingkai haha. Oiya, alat elektronik baiknya dikardusin juga. Kalo masih ada yang berceceran kami masih mengandalkan trash bag besaar. Beberapa barang yang nggak cukup masuk kardus juga masuk trash bag.

Transportasi
Kalau masih sekota, pakai mobil bak aja cukup ya. Walaupun harus bolak balik. Jadi pesen dadakan juga nggak masalah. Penyedianya juga banyak. Nah waktu pindah antar kota antar provinsi, kami pakai truk. Kami cari dan dapet dari iklan olx. Udah nggak sempet nyari-nyari yang lain. Dulu dapet beberapa. Ada yang harganya belum termasuk tenaga pengangkut, ada yang udah. Kami ambil yang paling murah hehe. Nah kalo pesen truk ini nggak bisa mendadak. Karena bisa jadi antri. Sebelum hari H, penyedia truk survey ke rumah, liat kira-kira truknya cukup apa nggak. Berhubung barang kami nggak banyak, ya cukup-cukup aja. Entah ya kalo nggak cukup terus selanjutnya gimana.

Angkut-angkut
Waktu pindahan sekota, suami saya yang angkut-angkut barang hehe. Dibantu temen-temennya. Karena tarif yang dipatok sopirnya nggak termasuk jasa angkut. Nah, pas pindahan pakai truk, angkut-angkut barang semua dikerjakan penyedia truk. Saya mah terserah mereka aja gimana nyusunnya. Yang penting cukup dan aman. Alhamdulillah dikasih saran-saran juga. Kaya misalnya lemari piring kami yang dari kaca, sama mereka diamankan dengan dibungkus pakai kasur busa. Oiya, alhamdulillah motor kami juga keangkut. Setelah semua barang masuk, truk ditutup terpal.

Unpack dari Truk
Gimana kondisi barang-barang kami? Alhamdilillah semua aman, nggak ada yang rusak, padahal waktu perjalanan banyak hujan. Ada beberapa sih, kardus yang rusak. Tapi itu bukan rusak di perjalanan. Rusaknya karena pas nurunin barang tiba-tiba hujan. Selain itu baguus semua.

Sekarang ini kami masih menata rumah yang siap angkut. Gimana caranya supaya nggak terlalu banyak effort kalau nanti harus pindahan hehe. Semoga tiap proses pindahan dan kerepotannya jadi ladang pahala kami. Kalo ditanya, emang nggak repot pindahan terus? Ya repot emang. Tapi dijalanin aja da.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar