Minggu, 20 Maret 2016

Tak Ada yang Abadi kecuali Allah

Saat ada yang berkata bahwa ada bahagia yang sangat setelah menikah, percayalah bahwa itu benar.. Dan saat ada yang berkata bahwa ada nikah tu bikin pusyiiing, percayalah bahwa itu juga benar.

Postingan ini murni curhat nyak hahaha. Mungkin nggak akan ada ibroh, kecuali sedikit gambaran buat adik-adik yang belum nikah ehem..

Saya punya Bapak. Bapak ini lima bersaudara, laki semua. Kalo lagi foto pas ada yang mantu, wis kaya pandawa lima pokoke. Sebenernya ada dua saudara perempuan, tapi udah wafat dari kecil. Nah, dari lima orang bapak-bapak inilah, lahir anak-anak unyu seperti saya dan sepupu-sepupu.

Dari kecil, saya sama sepupu-sepupu dari Bapak ini emang deket.. Masa kecil kami bahagia banget pokoknya. Buanget. Walaupun kebahagiaan saya dan saudara kandung saya sebenernya cuma ciprat-ciprat aja. Soalnya cuma kami yang tinggal di Jakarta, sementara sepupu yang lain di Solo.

Mbah kakung (alm) dan mbah putri adalah dua orang petani bersahaja, yang jangankan baca tulis. Bicara dalam bahasa Indonesia pun tidak bisa. Tapi mereka sangat luar biasa. Ibu saya cerita, dulu alm. Mbah kakung adalah seorang yang saaaaangat bijaksana. Mbah kakung mbah putri tinggal di sebuah desa, namanya Jatirogo. Desa yang,, bahkan sekarang pun masih cukup terpencil. Apalagi jaman kami kecil dulu. Kalo naik motor, motornya harus naik getek buat nyebrang sungai..

Nah, mungkin sama kaya keluarga-keluarga lain, momen paling membahagiakan adalah saat lebaran, di mana semua anggota keluarga besar bisa ngumpul bareng. Dulu, kalo lebaran, kami pasti mengalami 'reli paris dakkar', saat perjalanan dari solo menuju ndeso. Jalannya masih hancur-hancuran. Tapi kami tetep hepi. Karena semobil itu isinya bocah-bocah piyik semua. Seru... Dan lebih seru lagi pas semua udah sampai di ndeso. Kita biasa jalan-jalan, main di sawah, metik jagung, mbakar jagung, main kembang api, sampe main sega bersama. Makin besar jenis permainannya makin beda ya. Tapi, kebersamaannya selalu sama.

Salah satu momen yang paling nggak terlupakan adalah saat keluarga saya akan pindah ke Jeddah. Waktu itu, semua sodara-sodara yang ada di Solo dateng dong ke rumah di Bekasi. Seru banget. kita have fun have fun  bareng terus lah. Kita pergi ke Taman Mini bersama-sama.. Dan jalan dari turun angkot sampe PP IPTEK yang tempatnya paling belakang itu hahaha. Terus besokannya kita jalan-jalan ke Dufan... Berhubung liburan antri tiap wahananya aduhai lah ya. Sambil ngantri kita sambil main "roger roger" gitu haha. Ndeso banget *emang*. Terus malemnya kita chit chat di teras. Ngobrol ngalor ngidul, ciye-ciyean. Wkwkwk. Jaman jahiliyah banget itu. Pokoknya seruuu banget. Dan dengan adanya mereka, hidup terasa lengkap banget. Kecuali satu sih, kita masih jomblo hahaha.

Dan semua keseruan itu masih terus berlanjut... Sampe kuliah... Sampe pada akhirnya saya menyadari, bahwa kebersamaan ini nggak akan lama lagi. Yak. setelah kami menikah, semua tidak akan pernah sama. Tidak akan pernah sama.

Dan memang benar.

Tahun 2009, pertama kali sepupu nikah. Tahun 2011, saya yang nikah. Saya yang kedua. Dan berturut-turut berlanjut ke sepupu-sepupu yang lain. Perlahan tapi pasti, prioritas kami berubah menjadi kepada pasangan dan anak-anak kami. Dan rasanya... kok kayaknya sekarang nggak begitu seru lagi ya...?

Apakah saya tidak bahagia dengan apa yang saya miliki sekarang? Bukan... bukan itu yang mau saya bicarakan. Suami dan anak-anak saya adalah anugerah yang tidak ternilai.. Pun dengan keluarga suami yang dunianya baru saja saya masuki. Anggota-anggota baru keluarga ini juga menyenangkan sekali. Beneran. Istri/suami sepupu-sepupu saya, mereka super cool. Tapi, memang banyak yang harus disesuaikan. Terutama tentang waktu. Sekarang rasanya susah banget mau ngumpul bareng. Kami bukan anak sekolah/kuliah lagi yang punya waktu beberapa minggu setahun buat liburan. Kami semua sudah terikat dengan tanggung jawab. Pun, kami punya keluarga yang waktu luang kami harus dibagi-bagi. Jadi ya emang udah susah da mau ngumpul mah. Dan, kalopun akhirnya bisa ngumpul, semua akan sibuk sama anak masing-masing. Ada yang rewel, ada yang takut sama orang, ada yang diem banget, ada yang ga bisa diem banget, endebray endebray.. Ya sama, anak gue juga hahaha.

Tapi pada akhirnya, saya harus bisa menyadari bahwa taqdir telah membawa kami pada masa ini. Pengen kayak dulu? Udah nggak bisa, mbak... Dunianya udah lain. Masa itu ada pada dimensi lain. Masa lalu. Nggak akan pernah bisa terulang.. Paling nggak selama di dunia. Ya, di dunia.

Dan pada akhirnya, saya benar-benar berdoa, Allah akan memasukkan kami ke surga dan memberikan apa yang kami miliki dulu di sana. Tanpa cela...
Allahumma adkhilna  jannah :,)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar