Rabu, 30 Maret 2016

Pendidikan Anak-anak Kami

Post ini sebenernya pernah saya publish. Tapi pada perjalanannya saya berubah haluan sedikit hehe. Jadi diedit-edit lagi. Ini tentang gimana mendidik anak. Oleh orang tua sebagai subjek utama dan pihak-pihak lain yang mendukung.

Kalo ngomongin pendidikan, buat saya sih, saya nggak menuntut macem-macem sama anak-anak untuk hal-hal akademik. Cukup bisa baca-tulis-hitung aja. Cukup. Karena dengan dia bisa baca, ilmu pengetahuan apapun insyaallah bisa dipelajari otodidak. Apalagi anak SD. Dan saya agak berat sebenernya, menjejalkan kurikulum dikbud ke anak-anak. Seperti yang disampaikan sama ust budi ashari. Saya merasa banyak pelajaran mubadzir yang menghabiskan waktu anak, yang seharusnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih berguna. Berguna gimana? Kembali lagi ke yang tadi. Anak siap menghadapi masa aqil balighnya. Misalnya nih ya.. Daripada ngajarin tentang Majapahit, kan mending ngajarin anak tentang periode makkah madinah. Sejarah itu kan seru ya, kalo disampein dengan cara asik. Nah kalo sejarah yang disampein ke anak itu siroh nabawiyah bisa menanamkan iman ke anak to. Sejarahnya nggak mubadzir jadinya.

Nah balik lagi. Sebelum aqil baligh pengen ngajarin apa sih ke anak?

Fokus yang pertama, tentang aqidah. Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallah membangun aqidah para sahabat dalam waktu 13 tahun (hijriah). Nah, mirip-mirip kan tuh sama masa anak-anak dari lahir sampai umur lulus SD *itungan maksa haha*. Mengajarkan aqidah ini sekilas tampak simpel. Tapi.... ternyata saya yang udah setua ini aja masih ngerasa aqidahnya harus diperbaiki. Artinya, mengajarkan tauhid ini bukan cuma selingan. Ini hal paling pokok. Saya kepinginnya saat dia baligh, nggak ada lagi pola pikir yang salah tentang tauhid ini. Kenapa? Kita nggak pernah tau umur ya. Bisa jadi anak kita dipanggil beberapa saat saja setelah dia baligh, di mana dia sudah harus bertanggung jawab atas diri sendiri. Lha kalau aqidahnya nggak lurus meh kepiye? Misal ni, dia masih baca2 ramalan zodiak di web-web remaja gitu. Bisa masuk surga gitu? Trus kalo ga bisa, yang tanggung jawab siapa? Ya kita to, orang tuanya. Sebenernya kalo yang satu ini beres, rasanya habis perkara deh. Ga mikir lagi, ntar anak gw masa-masa pubernya gimana, ntar anak gw mau pake kerudung apa gak, and so on and so on. Orang tua bisa hidup aman tentram nyaman bahagia.

Fokus kedua, syariah. Anak udah baligh, artinya dia udah wajib shalat, puasa, zakat, dan kalau mampu haji. Kepinginnya, mereka shalat nggak sekedar shalat. Tapi menjalankan shalat dengan sempurna. Mulai dari niatnya yang lurus, shalatnya yang khusyu', sampai tata caranya yang bener. Mungkin nggak perlu sampai hafal dalilnya ya. Tapi paling nggak sih, mereka udah baca. Jadi mereka punya landasan atas setiap ibadah yang dilakukan. Dan ilmu ini termasuk ilmu yang fardhu ain ya. Tapi kayanya tetep disesuaikan sama kondisi anak. Kalo liat adik gw yang piyik yang masih SD, harusnya sih ilmu-ilmu fiqh dasar ini nggak membebani.

Fokus ketiga, akhlaq. Jaman sekarang ini ya, buaaanyak banget orang-orang sepuh yang mengeluhkan jeleknya akhlak anak-anak muda. Nggak tau juga sih, akhlak si anak muda yang kurang baik atau perasaan orang sepuh yang sensitif. Atau keduanya belum bisa saling beradaptasi ya? Hm... gini aja deh. Akhlak yang ditanamkan ke anak, yang paling penting akhlaq Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Itu adalah sesempurna-sempurnanya akhlaq. Kalau itu udah, insyaallah bisa menyesuaikan dengan budaya adat kebiasaan.. Targetannya ya, apapun yang anak lakukan dia punya landasan. Saya begini karena Rasulullah begini. Saya makan pakai tangan kanan, saya berbicara seperti ini, saya mengetuk pintu tiga kali, dan lainnya karena itulah yang dicontohkan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam.

Fokus keempat, cinta Al Qur'an. Bukan hafizh sekedar penghafal, tapi penjaga. Saya nggak nargetin kok, anak-anak harus hafizh umur berapa. Ya jane kepengennya sih sebelum dapet ilmu-ilmu dunia, ya Al-Qur'annya dulu dimantepin. Seperti tausiyah ustadz Deden, yang jelas targetnya bukan kuantitas ayat, tapi kuantitas waktu. Artinya, dengan istiqomah berinteraksi dengan Al-Qur'an, yang ada di otak ya ayat-ayat Al-Qur'an.. Itu target sebenernya.

Fokus utama pendidikan anak-anak itu aja sih. Nah kalo aspek perkembangan anak yang lain, menurut saya justru bisa diselingin ke hal-hal di atas.. Seperti aspek kemandirian, atau sosialisasi, atau yang lain-lain lah. As what I said, kalo fokus yang pertama udah beres, yang lain-lain bakal ngikutin sendiri kok, insyaallah. Cuma perlu pembiasaan dan latihan. Selain itu, kalo anak-anak punya passion tertentu ya monggo. Kita fasilitasi. Misal suka ngoprek atau ngoding hahaha. Apa sih. Berasa kasih tak sampai gitu sama oprek2an wkwkwk. Atau mereka suka bola atau taekwondo. Atau yang lain-lain.

Jadi....
Jadi ya pengennya kami sebegai orang tua bisa menjadi pemain utama dalam memasukkan target-target itu ke anak-anak. Dan nanti setelah apa yang dibutuhkan anak melebihi kafaah yang kami miliki, ya pengennya masukin asma ke sekolah yang fokusnya hal-hal di atas. Umur berapa ya? Hehe.. Kayanya liat perkembangan anaknya. Sekolahnya yang nggak pakai kurikulum dikbud dulu.. Tapi kalo emang nggak memungkinkan, ya mau nggak mau disesuaikan. Gapapa sih ada kurikulum dikbud. Dikit aja tapi. Pelajaran lain wis ra tak gagas jane hahaha. Sorry to say, tapi kali ini saya mau mengeluarkan jurus "anak anak gua ini. Terserah gua lah mau gua apain" :P

Tidak ada komentar:

Posting Komentar