Jumat, 14 Agustus 2015

Kita sudah mengeluarkan berapa banyak fatwa?

Pernah ngisi mentoring? Halaqah? Atau ta'lim? Kalau adik2 yang kita bina itu antusias, pasti baaanyak sekali pertanyaan yang ditujukan ke kita.
"Kalo begini hukumnya apa mbak?"
"Kaya gitu boleh nggak sih..?"
"Lebih baik yang mana begini sama begitu?"
Dan masih banyak pertanyaan lain yang sangat bervariasi temanya. Tapi emang kebanyakan pertanyaan tentang fiqih ya. Karena berhubungan erat dengan keseharian kita.

Jadi... Selama ngisi majelis-majelis ilmu itu, udah berapa kata-kata "saya tidak tahu" yang kita berikan ke mereka? Atau malah justru lebih banyak nyotoy-nyotoynya? Astaghfirullahal'adzhim.. Na'udzubillahi min dzaalik.

Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada adakan terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa ilmu)” (Al-A’raf:33)

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung . (QS. An-Nahl: 116)

Musa berkata kepada mereka, “Celakalah kalian, janganlah kalian mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, karena Dia akan membinasakan kalian dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan. (QS. Thaha: 61)

Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta atas nama Allah, wajah-wajah mereka menjadi hitam. (QS. Az-Zumar: 60)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)

Al-Mughirah radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam bersabdِa: "Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama orang lain. Karena barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka." (HR. Al-Bukhari no. 1209 dan Muslim no. 4)

Tegas sekali ya. Cenderung serem. Serem banget malah. Saya tidak berkapasitas menafsirkan dan menyimpulkan hukum dari dalil-dalil tadi. Hanya saja, bagi saya, ini adalah peringatan untuk berhati-hati dalam berbicara. Saya pun sempat merasa takut sekali mengisi majelis ilmu. Ya karena ilmu saya cetek banget. Khawatir menyesatkan adik-adik dengan kesotoyan saya. Lebih khawatir lagi, kesotoyan itu akan menjadi bumerang bagi saya di akhirat nanti.

Nah tapi...Tapi di sisi lain.. Kita punya kewajiban menyampaikan ilmu yang kita punya. Pun, Rasulullah memerintahkan perempuan untuk banyak bersedekah supaya terlindung dari neraka. Dan sedekah ilmu bisa jadi pilihan yang sangat baik. 

Yang kemudian menjadi ganjalan, mungkin ada rasa malu saat harus menjawab "nggak tau" pas ditanya sama adik-adik. Atau mungkin justru ada adik yang kecewa karena ngerasa "ini si mbak ditanya apa-apa ga tau". Tapi kemudian kembali lagi menelisik kehidupan para ulama. Mereka pun tak pernah malu dengan kalimat "saya tidak tahu". Lalu siapalah kita berani mengeluarkan fatwa-fatwa tanpa ilmu? Kalaupun pada akhirnya ada yang lari karena ketidakpuasan mereka terhadap ilmu dan wawasan kita, kembalikan lagi saja pada Allah. Allah yang Maha membolak balik hati manusia. Kalau kata teteh-teteh jaman kuliah dulu, apa yang keluar dari hati, akan masuk ke hati, Insyaallah. Dan kalaupun ilmu dan hidayah itu datang kepada adik-adik bukan melalui kita, insyaallah ada banyak sekali manusia atau perantara lain yang lebih baik, yang akan menyampaikan ilmu dan hidayah itu pada mereka.

Intinya mah ya, harus ada semangat berlebih untuk mencari ilmu. Semakin banyak ilmu, insyaallah semakin tawadhu. Semakin paham apa yang harus disampaikan. Semakin mantap mengakui ketidaktahuan kita. Semoga kita menjadi sebaik baik manusia, yang belajar dan mengajarkan Al-Qur'an.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar