Sabtu, 25 Juli 2015

Perempuan-perempuan Perkasa Penopang Keluarga

Beberapa waktu belakangan, saya ngerasa lagi bersumbu pendek banget pas ngurus anak-anak di rumah. Padahal anak baru dua oy. Mungkin karena terlalu lelah ya. Anak-anak nggak prnah tidur siang dan minta perhatian sepanjang hari, nggak jarang emosi saya meletup-letup cuma karena hal kecil.

Sampai akhirnya kami pulang kampung ke Bekasi, dan saya diceritain sama Ibu tentang kisah tetangga kami.

Di Bekasi, kami punya tetangga, rumahnya pas di belakang rumah. Sebut saja namanya Mpok Lili *bukan nama sebenarnya*. Mpok Lili adalah seorang ibu dari 2 anak. Anaknya yang kecil seumuran sama Asma. Awalnya, Mpok Lili tinggal sama orang tuanya. Nggak bareng juga sih. Beda rumah tapi sebelahan banget. Tapi beberapa bulan lalu, orang tuanya dipanggil Allah SWT. Ibu dan ayahnya dipanggil dalam waktu yang hampir bersamaan karena sakit. Mungkin cuma selisih satu jam ya. Terus, Mpok Lili ini punya 2 adik laki-laki. Adiknya yang bungsu masih sekolah. Artinya, setelah orang tuanya wafat, adik bungsunya jadi tanggungan beliau juga. Padahal, untuk kebutuhan sehari-hari keluarga kecilnya aja sering pas-pasan. Makanya, beliau mau nggak mau harus kerja, dari pagi sampe sore, ninggalin anaknya yang kecil di rumah. Karena suaminya kerja jadi satpam perumahan yang gajinya juga nggak seberapa. Tadinya, waktu masih hidup, ibunya ini yang ngasuh anak Mpok Lili. Tapi setelah wafat, anaknya dititipin ke saudara yang rumahnya nggak jauh dari rumah beliau. Nah di sinilah yang bikin dilema. Anaknya sering dibentak-bentak dan diperlakukan kurang layak. Ngenes banget pokoke. Astaghfirullah.. Saya liat anak saya dikasarin dikit sama orang aja udah mau nangis. Apalagi liat anak sendiri dibentak-bentak sama orang lain.. Tapi mau gimana? Tetangga saya ini juga nggak punya solusi.

Dan ternyata ujian dari Allah nggak berhenti sampai di situ. Adik laki-lakinya yang udah dewasa ternyata ketangkep polisi karena kasus narkoba. Dan beliau cerita, untuk bisa bertahan hidup di LP butuh biaya yang luar biasa besar. Sampai beliau jual tanah warisan orang tuanya. Di samping itu, adiknya pun punya istri dan bayi 3 bulan yang juga harus dinafkahi. Mau nggak mau, Mpok Lili juga yang harus nanggung hidup mereka, karena adik iparnya dikucilkan sama keluarganya. Luar biasa...  Ujian bertubi-tubi dalam waktu yang berturut-turut. Tapi alhamdulillah Mpok Lili punya banyak tetangga yang bersedia meringankan beban beliau. Ada yang melunasi biaya sekolah adik bungsunya sampai lulus, ada yang membantu biaya hidup, dan bantuan-bantuan lain.

Seberat itu ujian yang harus beliau tanggung. Saya kemudian berkaca pada diri sendiri. Melihat betapa idealnya hidup yang saya jalani sekarang, terutama tentang kesempatan untuk mendidik anak-anak saya sendiri. Harusnya mah malu ya, kalo masih ngeluh-ngeluh wae.. Sementara di luar sana masih banyak sekali para ibu yang harus membanting tulang, bekerja meninggalkan anaknya, sekedar untuk bisa makan.

Jadi kepikiran tentang sandwich generation. Perempuan-perempuan yang bukan hanya harus menghidupi anak-anaknya, tapi juga orang tuanya. Kita semua udah paham lah ya, gimana sulitnya ekonomi kita sekarang. Kalo kata dokter kandungan saya, Hb 10 buat orang Indonesia mah udah bagus. Orang kita kan yang penting kenyang. Ya atuh mau gimana. Harga daging mahal pisan. Harga buah juga mahal. Padahal termasuk kebutuhan pokok ya. Wajar sekali kalo banyak keluarga yang makan daging cuma setahun sekali, pas Idul Adha. Dan wajar sekali kalo pada akhirnya banyak perempuan yang harus membantu menopang kehidupan keluarga. Makanya, saya termasuk beruntung sekali, bisa leluasa mendidik anak tanpa harus keluar rumah, biidznillah.. Saya pun termasuk beruntung sekali nggak perlu mencari uang untuk memenuhi kebutuhan orang tua, karena memang orang tua udah cukup banget.

Ini juga yang sering jadi dilema emak-emak masa kini, di mana emak-emak banyak yang sulit resign karena jadi penopang hidup orang tua dan adik-adiknya. Kalau penghasilan suami cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok orang tua istrinya ya bagus banget. Nah kalo nggak? Mau nggak mau kan, si emak inilah yang harus banting tulang mencari nafkah. Dari banyak sumber yang saya baca, ulama sepakat, ketika orang tua nggak punya penghasilan dan sudah nggak mampu menghasilkan, yang kemudian menanggung hidup orang tua itu adalah anak-anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Semoga Allah memberi kesabaran dan kekuatan bagi ibu-ibu itu. Insyaallah pahalanya luar biasa besar :)

Dan saat ini saya dan suami masih punya PR nih. Gimana caranya supaya di hari tua nanti bisa mandiri. Sehingga, ketika anak-anak perempuan kami nanti harus bekerja, mereka bekerja karena kebutuhan ummat, bukan demi memenuhi kebutuhan, apalagi keinginan kami. Dengan catatan, mereka tetep nggak meninggalkan anak-anaknya lho ya. Saya berharap sekali, jika Allah mengizinkan, anak-anak perempuan saya bisa mendidik anak-anaknya dengan baik. Karena mendidik anak nantinya akan semakin sulit. Akhir zaman semakin dekat. Mengokohkan aqidah anak-anak seperti menggenggam bara api. Jadi, sebisa mungkin, anak-anak perempuan saya nggak tersibukkan dengan mencari nafkah. Kalau seandainya keadaan ekonomi keluarga kecil anak-anak kurang memadai, pengennya ya kami ini yang membantu. Kalo udah cukup-cukup aja ya bagus. Dan saya ga pengen da, ada anak perempuan yang bilang "mau cari uang dulu buat bahagiain orang tua". Duh. My dear daughters, Insyaallah kebahagiaan kami adalah bisa membawa kalian bertemu wajah Allah di akhirat nanti. Itu aja. Jadi kalau emang udah waktunya nikah ya nikah. Ga usah lah cari uang dulu buat orang tua. Kewajiban abimu ke anak-anak perempuan tu menikahkan, bukan mempekerjakan. Hehehe. No offense ya. Wis, didik aja anak-anak dengan baik. Jadi kalo mau keluar rumah, tujuannya satu aja. Bermanfaat buat orang lain. Yo monggo, mau jadi guru, dokter, ahli forensik, tapi tetep, yang paling diminta tanggung jawabmu nanti kan anak-anak sama rumah suami. Gitu ya, anak-anak ya... *yakali siapa tau mereka baca*

Nah buat anak-anak laki, semoga sebisa mungkin bisa memenuhi kebutuhan anak istrinya. Bekerja keraslah, jangan sampai istrimu harus ikut cari nafkah juga. Kalo orang tua istrimu butuh dipenuhi kebutuhannya, sebisa mungkin penuhi. Kalo bojomu mau kerja, monggo diizinin dengan syarat ya. Di sisi lain, sediakan waktu, perhatian buat anak istrimu. Mereka butuh perhatianmu, bukan cuma uangmu. Upgrade ilmu dan iman mereka. Putuku dijaga baik-baik ya. Zaman semakin nggak karuan. Kiamat semakin dekat. Inget kata ibnu qayim, kalau anak rusak, penyebab utamanya itu ayah. Quu anfusakum wa ahliikum naaran, my dear sons.
Semoga Allah memudahkan dan memberi kita petunjuk.

Udah mikir cucu, padahal Asma sekolah aja baru taun depan wkwkwk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar