Kamis, 23 Juli 2015

Benalu-benalu Blog

Kenapa tiba-tiba bikin blog?

Alasan pertama, karena saya pengen nulis tentang kelahiran anak-anak saya. Asa sayaaang banget kalo ga terdokumentasikan. Tapi sayang juga yah kalo blog isinya cuma cerita persalinan pertama sama cerita persalinan kedua hehe.

Alasan kedua, untuk mendukung pengasuhan anak. Hehehe. Mengeluarkan semua isi otak dalam bentuk tulisan itu bisa memperbaiki mood. Bisa ngurangi beban. Bisa bikin lebih enjoy menjalani kehebohan sehari-hari. Jadi yang penting mah ditulis dulu. Mau publish kapan ya saksempetnya aja.

Alasan ketiga, berbagi pengalaman. Siapa tau berguna buat orang lain. Ya kali aja ada yang baca gitu.. Haha. Nambah-nambah amal jariyah.

Nah tapi... Sebenernya ada banyak hal yang bikin maju mundur kalo mau nulis sesuatu. Ada banyak hal yang bikin saya takut.

1. Riya', ujub
2. Ghibah
3. Membuka aib diri sendiri
4. Menyakiti orang lain
5. Menyiarkan musibah
6. Dan lain-lain

Riya', sum'ah, ujub
Riya' dan teman-temannya ini udah kaya makanan sehari-hari deh, seandainya kita nggak bisa pinter-pinter jaga hati. Padahal di manapun saya baca, riya' dan kawan-kawan ini termasuk ke dalam satu kata yang konsekuensinya begitu besar: syirik. Yak, mereka termasuk syirik kecil. Di mana menurut banyak ulama, syirik kecil ini tanggungannya lebih besar daripada dosa besar. Tapi nyatanya suuuulit sekali dikontrol. Untuk saya pribadi, lebih sulit dikontrol ketimbang dosa besar. Lebih sulit untuk nggak riya' daripada nggak membunuh. Lebih sulit untuk nggak riya' daripada nggak zina. Allahua'lam.
Kalo riba, saya ga berani bilang kaya yang di atas :)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “ Maukah kamu kuberitahu tentang sesuatau yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kalian daripada (fitnah) Al masih Ad Dajjal ? Para sahabat berkata, “Tentu saja”. Beliau bersabda, “Syirik khafi (yang tersembunyi), yaitu ketika sesorang berdiri mengerjakan shalat, dia perbagus shalatnya karena mengetahui ada orang lain yang memperhatikannya“
(H.R Ahmad dalam musnadnya.
Dihasankan oleh Syaikh Albani
Shahiihul Jami’ (2604))

Ghibah
Seringkali kita nggak sadar ternyata udah meng-ghibahi orang lain *kita? elu aja kali*. Kadang kalo abis ngomongin orang suka baca-baca lagi tentang ghibah-ghibah yang diperbolehkan. Terus berusaha mencocok-cocokkan deh. Intinya buat mencari pembenaran. Mungkin kalo lewat tulisan ga banyak keceplosannya ya. Tapi tetep harus ekstra hati-hati.

Membuka Aib Diri Sendiri
Lidah/jempol/jari-jari juga suka kepleset pada dosa ini dalam rangka sharing pengalaman. Padahal Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam udah memperingatkan.
“Semua umatku diampuni dosanya kecuali orang-orang yang melakukan perbuatan maksiat secara terang-terangan. Salah satu dari perbuatan maksiat secara terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu perbuatan dosa pada malam hari, dan Allah menutupinya. Namun, kemudian pada pagi harinya dia bercerita kepada orang lain, ‘Hai fulan, semalam aku melakukan ini dan itu’. Sebenarnya dia di malam harinya aibnya itu ditutupi oleh Tuhannya, namun pagi harinya malah dia yang menyingkap sendiri tabir Allah itu darinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kalau menceritakan dosa masa lalu supaya orang lain mengambil pelajaran? Em... lebih baik sih nggak ya.. Tapi itulah beratnya. Ikhtiar untuk menghindar dari membuka dosa masa lalu itu yang berat.

Menyakiti Orang lain
Yang saya maksud di sini itu cerita-cerita yang nggak sengaja ternyata menyebabkan orang lain iri. Atau membuat orang lain membanding-bandingkan apa yang saya miliki dengan miliknya *padahal gw juga ga punya apa2 ya*. Mungkin niat awalnya tahadduts binni'mah ya. Tapi nggak jarang niat awal jadi beda sama niat akhir. Niat awalnya tahadduts binni'mah, eh belok jadi ujub. Allahua'lam. Saya juga masih belajar tentang batasan-batasan dan perbedaan antara keduanya. Tapi saya ngarepnya, apa yang saya tulis nggak merusak kebahagiaan orang lain.

Menyiarkan Musibah
Padahal menyembunyikan musibah adalah indikator kesabaran.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah bersabda ”Termasuk dari simpanan simpanan kebaikan, menyembunyikan musibah musibah, kesakitan serta sedekah”. (Riwayat Abu Nu’aim, dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi)

Semoga Allah memudahkan kita untuk menghindari hal-hal itu ya.. Susah sih emang. Namanya cewe ya, apa aja diomongin. Tapi semoga Allah mudahkan..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar